Thursday, June 29, 2006

Membuka Hati

Sekelompok orang yang baru saja meninggal mendapatkan diri mereka sedang berdiri antre di depan gerbang akhirat.
Sambil menunggu pengadilan Illahi, mereka mulai menanyai diri mereka sendiri mengenai perilaku mereka di dunia.

"Apakah dulu aku menjadi orang tua yang baik?"
"Apakah aku berhasil mencapai sesuatu yang berharga dalam hidupku?"
"Apakah aku rajin beribadah sepanjang malam?"
"Apakah aku cukup berderma kepada fakir miskin?"
Dan, ketika akhirnya mereka sampai di gerbang, semua jiwa itu dihadapkan hanya pada satu pertanyaan, "Seberapa besar kamu dulu mengasihi?"

Mengasihi orang lain adalah langkah pertama dari perjalanan panjang masuk ke dalam diri. Perjalanan ke dalam diri memang tak mudah.
Banyak orang menyerah ketika baru memulainya.
Kesibukan sehari-hari sering menjadi alasan.
Tapi, penyebab sebenarnya bukan itu.
Persoalan sebenarnya adalah pintu hati kita yang tertutup, bahkan terkunci.
Ini membuat telinga kita tak mendengar dan mata kita tak melihat.
Kita tak akan pernah dapat memulai perjalanan sebelum menemukan kuncinya, yaitu "cinta dan kasih Sayang."

Tanpa adanya rasa cinta pada sesama, pintu-pintu gerbang menuju kesadaran yang terdalam tak akan pernah terbuka.
Agama-agama besar di dunia sebenarnya memiliki pesan tunggal: kasih sayang.
Bahkan, Tuhan selalu dilukiskan sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Salah satu cara praktis untuk mengembangkan sikap cinta kasih adalah dengan mulai menyadari akan penderitaan.
Sadar akan penderitaan -- entah itu penderitaan kita sendiri atau penderitaan orang lain -- akan membuat hati kita melunak.

Mari kita mulai dengan sebuah cerita.

Di sebuah SD seorang guru bertanya pada murid-muridnya, "Siapa yang sudah sarapan pagi ini?"
Kira-kira separo murid mengacungkan tangan.
Guru itu kemudian bertanya kepada anak-anak yang tidak mengacungkan tangan, "Mengapa kalian tidak sarapan?"
Sebagian menjawab tak sempat karena sudah terlambat.
Sebagian lagi mengatakan belum merasa lapar, ataupun tak menyukai sarapan yang disajikan. Semua memberikan jawaban senada kecuali satu anak.
"Karena," jawabnya, "Sekarang bukan giliran saya."
"Bukan giliranmu?" tanya sang guru. "Apa maksudmu?"
"Dalam keluarga kami ada empat anak," ujarnya, "Tapi, ayah tak punya cukup uang untuk membeli makanan supaya tiap orang bisa sarapan setiap hari. Kami harus bergiliran dan hari ini bukan giliran saya."

Apa yang Anda rasakan ketika membaca kisah ini?

Orang-orang seperti ini ada di sekitar kita.
Tapi, kadang-kadang kita tak bisa melihatnya karena mata kita tertutup.
Yang sebenarnya tertutup adalah mata hati kita.
Ini bisa terjadi karena hati kita dipenuhi oleh ego dan kepentingan kita sendiri.
Kita terlalu banyak tertawa dan sibuk bergaul dengan orang-orang berpunya.
Ini membuat hati kita tertutup. Untuk menjalankan cinta kasih kita perlu memulai dengan mencintai diri kita, kemudian orang-orang terdekat kita.
Lihatlah mereka dengan hati Anda.
Bukankah orang tua Anda adalah orang yang rela mengorbankan hidupnya bagi Anda? Bukankah pasangan Anda adalah orang yang telah memilih menyerahkan hidupnya kepada Anda?
Bukankah anak-anak Anda sangat mengagumi Anda dan merindukan kebersamaan dengan Anda?
Bukankah pembantu Anda adalah orang miskin yang mengabdikan hidupnya untuk melayani Anda? Teruslah perluas dengan mengamati orang-orang di sekitar Anda.
Mereka semua memiliki penderitaan dan tantangan masing-masing.

Seorang bijak pernah mengatakan, "Ketika kamu melihat dirimu tidak berbeda dari orang lain, ketika kamu merasakan apa yang mereka rasakan, lalu siapa yang bisa kamu sakiti?"

Inilah cara menumbuhkan cinta.
Kita semua sama karena itu jangan pernah menilai orang dari penampilan fisiknya.
Tubuh bukanlah diri kita yang sebenarnya tetapi hanya sekadar 'sangkutan' dari jiwa.
Jiwa itulah esensi manusia yang sejati.

[arvan pradiansyah]

Posted by .:: me ::. at 7:03 AM 1 comments

Tuesday, June 27, 2006

Hadiah Yang Lebih Berharga

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga.
Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir.
Kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.

Setahun sudah lewat sejak Susan, 34 tahun, menjadi buta.
Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri.

Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya, dan menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah.
Tetapi, betapa pun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu -- penglihatannya takkan pernah pulih lagi.

Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis.
Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustasi.
Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya.
Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus.

Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan.
Mark bertekat untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi.

Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.

Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi.
Tetapi, bagaimana dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian.
Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggir kota yang berseberangan.

Mula-mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun.
Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru -- membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal.
Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati.
Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah.

Bagaimana reaksinya nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi.
"Aku buta!" tukasnya dengan pahit.
"Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku"
Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan.
Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.

Dan itulah yang terjadi.
Selama dua minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari.
Dia mengajari Susan bagaimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan satu kursi kosong untuknya.

Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus.
Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya.

Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal.
Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.

Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri.

Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik.
Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark.
Dia mengucapkan selamat berpisah.
Untuk pertama kalinya mereka pergi ke arah yang berlawanan.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna.
Belum pernah Susan merasa sepuas itu.
Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.

Pada hari Jum'at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja.
Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata : "Wah,aku iri padamu".

Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak.
Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup?

Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?"
Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu"
Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya, "Apa maksudmu ?"

"Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus.
Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu.
Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung", kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan.
Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya.
Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk menyakinkan diri -- hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan.

Posted by .:: me ::. at 7:02 AM 1 comments

Tuesday, June 13, 2006

Bertukar Peran

Mary menikah dengan seorang pria yang mengagungkan chauvinisme.
Mereka sama-sama bekerja penuh, tetapi suaminya tak melakukan apapun dirumah, apalagi membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga itu menurutnya pekerjaan perempuan.

Tetapi pada suatu petang sepulang kerja Mary melihat anak-anak sudah mandi, cucian sudah dimasukkan ke mesin cuci, yang lain sudah dikeringkan, hidangan makan malam sedang dipanaskan, dan meja makan sudah ditata rapi, lengkap dengan bunga sebagai pemanis.

Mary kaget bercampur heran, ingin tahu apa yang terjadi.
Ternyata Charley baru saja membaca artikel di majalah yang mengatakan bahwa para istri yang bekerja di luar rumah cenderung lebih romantis kalau dia tidak telalu lelah mengerjakan semua urusan rumah tangga setelah seharian bekerja penuh diluar rumah.

Esok harinya, ia sadar ingin segera bercerita kepada kawan-kawannya dikantor. "Bagaimana hasilnya?" tanya mereka.
"Hmmm, itu makan malam yangn indah," kata Mary.
"Charley, bahkan membantu membersihkan meja, membimbing anak-anak mengerjakan PR, melipat cucian yang sudah kering, dan membereskan rumah."

"Tapi, bagaimana sesuadah itu?" kawan-kawannya ingin tahu.
"Gagal, " kata Mary." Charley kecapekan. "


(The Best of Bits & Pieces, Chicken Soup for The Couple's Soul)

Posted by .:: me ::. at 7:15 AM 2 comments

Thursday, June 01, 2006

Teman Adalah Hadiah

Teman adalah hadiah dari yang di atas buat kita.

Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek.
Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik.
Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.

Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek.
Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama.
Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.

Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka.
Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya.

Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll.
Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka.
Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita?
Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama?
Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita.
Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka "takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll.
Itulah cara mereka mempertahankan diri.

Mereka akan bilang:
"Menari itu tidak menarik"
"Tidak ada yang cocok denganku"
"Teman-temanku sudah lulus semua"
"Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku"
"Kisah hidupku membosankan"
Mereka tidak akan bilang:
"Aku tidak bisa menari"
"Aku membutuhkan kamu denganku"
"Aku kesepian"
"Aku butuh diterima"
"Aku ingin didengarkan"

Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek.
Dan jangan tertipu oleh kemasan.
Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.

(Sumber Unknown by Oci)

Posted by .:: me ::. at 6:33 AM 1 comments

Google